Office 8, level 18-A Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53 Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta Selatan
085157374451

Peran Serta MONEV Studio dalam Evaluation Festival 2020

Studio

Peran Serta MONEV Studio dalam Evaluation Festival 2020

EvalFest 2020 diselenggarakan oleh Komunitas Evaluator India (ECOI/Evaluation Community of India) pada 12-14 Februari 2020 di New Delhi. Kegiatan ini bertema “Evidence Building for Achieving Sustainable Goals – Digital Development and Inclusion”. Sejak adopsi Agenda Pembangunan Global 2030 yakni 17 tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), seluruh negara telah terlibat dalam program pembangunan yang diarahkan pada pencapaian tujuan-tujuan ini dalam kerangka waktu yang lebih terukur.

Pemantauan dan Evaluasi (MONEV) – sebagai alat penting dalam tatakelola kemajuan dan kinerja — memiliki arti khusus bagi pencapaian SDGs ini. Adopsi Resolusi tentang Pemantauan dan Evaluasi oleh Majelis Umum PBB telah meningkatkan upaya di tingkat global, regional dan nasional untuk mengembangkan kapasitas individu dan kelembagaan dalam evaluasi di tingkat nasional dan menumbuhkan lingkungan di mana pengambilan keputusan berbasis bukti menjadi norma yang kini diakui berbagai pihak.

Evaluasi kemajuan menuju SDG melahirkan tantangan besar. Tantangan-tantangan ini muncul dari sejumlah parameter yang harus dipantau, cross-cutting dan tujuan pembangunan yang saling bertumbukan, tidak adanya sistem statistik pendukung yang memadai di beberapa negara, kapasitas monev yang beragam, dll. Satu hal penting bahwa ‘Inklusi’ adalah prinsip penting yang mendasari SDG, gagasan dasarnya adalah bahwa pembangunan perlu bersifat universal dan menjangkau semua kalangan masyarakat. Kesetaraan sosial dan kesetaraan gender adalah aspek-aspek khusus dari prinsip inklusi, dan evaluator telah mengembangkan metode untuk mengevaluasi kemajuan di bidang ini. Praktis semua evaluasi hari ini memperhatikan aspek kesetaraan gender dari program pembangunan.

SDGs telah mendalilkan prinsip inklusi yang lebih umum ‘Tidak ada yang tertinggal-No one left behind’, aspek yang memang lebih sulit untuk dievaluasi, kebutuhan informasi kompleks, juga di luar ruang lingkup cara pengumpulan data umumnya seperti survei dan uji petik. Tantangan utama dalam inklusi adalah bagaimana mencapai dan mengukur pencapaian garis akhir.

Karena itu diperlukan metode penilaian yang lebih baru dan dukungan teknologi digital yang mampu menawarkan ruang lingkup yang lebih luas di bidang ini. Teknologi digital memungkinkan transfer data dalam jumlah besar secara cepat dan membantu negara-negara mempercepat pembangunan sosial ekonomi, menghubungkan warga dengan layanan dan peluang, dan meningkatkan tata kelola. Metode digital seperti analisis jejaring sosial menawarkan ruang lingkup untuk menilai seberapa universal jangkauan pembangunan di berbagai sektor.

Terkait hal ini, Umi Hanik founder MONEV Studio berpartisipasi aktif dalam dua sesi utama yakni: 1) Masalah yang terkait dengan inklusi: evaluasi kesetaraan sosial, kesetaraan gender, jangkauan universalitas dalam pembangunan; dan 2) Penggunaan sumber informasi digital untuk evaluasi. Kesempatan tersebut juga dimanfaatkan oleh Umi untuk mempromosikan MONEV Studio sebagai platform yang relevan dengan tema besar konferensi. Dari partisipasi tersebut, refleksi Umi secara umum adalah adanya dorongan yang makin besar pada transparansi / akuntabilitas proses pembangunan dari masyarakat versus gangguan di dunia digital yang juga membawa dampak negatif pada polarisasi yang lebih besar dan konflik horizontal dari masyarakat hari ini. Evaluator perlu resah dan berbuat sesuatu karena gangguan tersebut membunuh karakter “evidence” secara umum, disisi lain kepercayaan masyarakat terhadap pembuatan kebijakan publik juga makin rendah.

Masa depan demokrasi dipertaruhkan, utamanya suara perempuan, anak-anak, remaja, penyandang disabilitas akan makin tertinggal dan dikucilkan. Profesional evaluasi dapat berkontribusi dengan meramaikan dunia digital dengan saling berbagi dan mem-viralkan kegiatan evaluasi dan menjadikan “bukti” sebagai dasar mengawasi, mengkritisi, juga mengambil keputusan. Secara rinci tindakan yang mungkin dilakukan oleh profesional evaluasi, baik individu / institusi adalah:

  1. Membuat konsepsi pembangunan dan cara mengkritisinya lebih membumi dan mudah dipahami oleh publik dan mudah diakses
  2. Sering menggunakan konsepsi itu dan menjadikannya viral sepopuler istilah lainnya.
  3. Memenuhi media sosial dan opini publik dengan konsepsi evaluasi, saling memperkuat kerja baik masing-masing dan membangun lebih banyak kolaborasi dan kemitraan dalam evaluasi pembangunan.
  4. Melibatkan profesional muda dan baru muncul untuk kampanye publik dan materi / topik menarik yang baik untuk dimunculkan dengan kampanye besar-besaran.
  5. Melakukan inovasi terus menerus untuk menciptakan alat evaluasi yang relatif ramah pengguna sehingga kalangan pemula dapat berkontribusi dalam evaluasi strategis, misalnya menggunakan alat EFGR untuk menilai laporan VNR atas capaian SDGs di negara masing-masing merupakan contoh yang baik dan perlu digaungkan untuk isu lainnya.

 

Selain itu Umi sebagai salah satu pendiri Komunitas Evaluasi Pembangunan Indonesia (Indonesian Development Evaluation Community/InDEC) juga diminta oleh ECOI untuk menandatangani kerjasama bilateral dalam bidang evaluasi. India dan Indonesia adalah negara penting di Kawasan Asia – Pasifik, rekognisi ini tentu penting bagi masa depan evaluasi pembangunan di Indonesia maupun di tingkat Kawasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *