Office 8, level 18-A Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53 Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta Selatan
085157374451

Post Positivism

Studio

Post-positivisme adalah paradigma yang merupakan pembaharuan atas paradigma positivisme dan menolak prinsip sentral positivisme.  Salah satu bentuk post-positivisme yang paling umum adalah filsafat yang disebut realisme kritis. Seorang realis kritis percaya bahwa ada kenyataan yang terlepas dari pemikiran kita yang dapat dipelajari sains. Bahwa realitas diasumsikan ada tetapi hanya dapat dipahami secara tidak sempurna karena pada dasarnya cacat mekanisme intelektual manusia dan sifat fenomena yang secara fundamental tidak dapat diatasi. Para pendukung post-positivisme percaya bahwa realitas harus mengalami pemeriksaan kritis seluas mungkin untuk memfasilitasi peneliti memahami realitas sedekat mungkin (tetapi tidak pernah sempurna). Post-positivisme mendukung keberlanjutan penelitian eksperimental dan survei dalam pendekatan kuantitatif, serta beberapa jenis kegiatan dalam riset kualitatif, seperti studi kasus (lihat Goertz, Mahoney, 2012).

Post-positivisme memandang bahwa riset tidak bisa menyamakan dunia manusia dan alam, sebab manusia itu dinamis dan selalu berubah. Paradigma ini menyatakan bahwa hubungan antara peneliti dengan subjek penelitian, yaitu manusia tidak terpisah melainkan interaktif dengan dengan subjektifitas seminimal mungkin. Oleh karena itu, post-positivisme menggunakan prinsip triangulasi dengan menggunakan berbagai jenis sumber data dan pendekatan penelitian. Sehingga, para penganut post-positivis cenderung menggunakan mixed methods atau metode campuran (kuantitatif dan kualitatif) dalam melakukan penelitian. Metode campuran dianggap memiliki kemampuan memberikan pemahaman dan hasil terpadu dan inklusif dalam penelitian.

 

Kontributor: Wijatnika

Referensi: