Office 8, level 18-A Jl. Jend Sudirman Kav. 52-53 Sudirman Central Business District (SCBD) Jakarta Selatan
085157374451

TENTANG KAMI

Studio

MONEV Studio adalah perusahaan startup perintis yang ditemukan konsepnya pada 2 April 2018 lalu secara resmi terdaftar sebagai badan hukum di Indonesia pada 18 Juni 2020. Visi kami adalah untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan, literasi evaluasi, dan inklusivitas. Melalui platform interdisipliner, kami memfasilitasi pembelajaran dan peningkatan keterampilan dalam studi pembangunan, pemantauan dan evaluasi (M&E), serta tatakelola kebijakan. Kami menerapkan inhouse framework yang kami temukan dan bangun berdasar pengalaman panjang pendiri selama menekuni berbagai jenjang penelaahan dan evaluasi pembangunan. Kerangka tersebut mencakup bagaimana mengidentifikasi kapasitas kebutuhan, kekuatan, dan kelemahan dari intervensi pembangunan, baik pada tingkat individu maupun pada tingkat institusi, dari mulai kebijakan/ program/ kegiatan/ komponen/ sistem, pada tingkat nasional atau sub-nasional, merangkai alternatif solusi, dan memberikan rekomendasi perbaikan/ peningkatan dengan langkah yang terukur.

MONEV Studio mempunyai perhatian khusus terhadap keberlanjutan planet Bumi sebagai sistem dimana pembangunan menjadi faktor peubah utama. Pembangunan memerlukan mekanisme pengendali untuk memastikan perubahannya membawa kebaikan bagi bumi dan setiap makhluk yang menempatinya tanpa kecuali.

Namun seiring berjalannya waktu, tantangan pembangunan makin besar dan masalah yang dihadapi Bumi kian memburuk. Maka pendekatan evaluasi konvensional tidak cukup, oleh karenanya pendekatan evaluasi yang mendorong transformasi yang luas dan dinamis pada berbagai tatanan baik nasional, regional, dan global. Ketahanan sistem yang bertransformasi tersebut untuk terus beradaptasi setiap saat perlu dipromosikan, dibangun, dan diciptakan di berbagai lini.

Secara khusus Patton (2019), menggarisbawahi bahwa mengevaluasi transformasi berarti bukan hanya melihat seluruh aspek yang bertransformasi tersebut, namun juga melihat seluruh aspek termasuk planet Bumi dan masa depannya yang menjadi rumah bagi proses pembangunan di tingkat nasional, regional, dan global sebagai bagian penting dari objek evaluasi. Oleh karenanya, MONEV Studio percaya bahwa melalui filsafat evaluasi yang transformatif, planet Bumi dan isinya dapat berubah menjadi tempat yang lebih layak dan lebih baik untuk dihuni oleh semua tanpa kecuali.

Guna mendukung filosofi evaluasi transformatif di atas, maka kami memiliki misi yang ingin kami kontribusikan utamanya guna membentuk pemikiran kritis dan konstruktif untuk masyarakat pada umumnya melalui:

  1. Fasilitasi pembelajaran, peningkatan dan pemajuan pemikiran, pengetahuan, dan keterampilan dalam studi pembangunan, evaluasi, dan tatakelola kebijakan
  2. Secara dinamis dan terus menerus melakukan inovasi-inovasi untuk mendukung akselerasi literasi dan pemutakhiran evaluasi pembangunan konvensional maupun digital
  3. Secara dinamis dan terus menerus mengembangkan dan mempromosikan produk dan inovasi evaluasi melalui berbagai strategi
  4. Secara dinamis dan terus menerus mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan tehnik-tehnik berpikir kritis tentang kinerja dan hasil-hasil pembangunan.
  5. Melakukan kampanye publik, kuliah umum/reguler, advokasi, seminar, lokakarya, pelatihan, kursus musiman, konferensi, magang, berbagi ruang kerja bersama, karya kolaboratif, dan mendukung/menangani/melakukan kegiatan-kegiatan evaluasi langsung.

 

MONEV Studio didirikan dengan melihat empat hal berikut ini:

  1. Banyak kemajuan pembangunan tetapi secara social terpecah. Kesenjangan sosial dan ekonomi antara 1 miliar orang terkaya di dunia dan 1 miliar orang termiskin telah melebar selama setengah abad. Masyarakat berpendapat bahwa negara mereka lebih terpecah sekarang daripada sepuluh tahun yang lalu (Ipsos Survei BBC, 2018).
  2. Democracy in Retreat: 13 tahun kemerosotan global dalam hal hak-hak politik dan kebebasan sipil. Kekuatan otoriter memenjarakan para pemimpin oposisi, memperketat media independen. Sementara itu, banyak negara demokratis menghadapi wabah korupsi, gerakan populis anti-liberal, dan kehancuran dalam aturan dan tatanan hukum, kekuatan politik populis berkuasa dan menyasar kelompok minoritas dengan tindakan-tindakan diskriminatif (survei Freedom House, 2019).
  3. Pemanasan global dan dampaknya terhadap kerusakan lingkungan dan ekosistem. Kerusakan ekosistem sudah terjadi. Sejak periode pra-industri, suhu udara permukaan tanah telah meningkat hampir dua kali lipat dari suhu rata-rata global. Perubahan iklim, termasuk peningkatan frekuensi dan intensitas cukup ekstrem, juga berdampak buruk bagi ketahanan pangan dan ekosistem berkontribusi terhadap bencana kekeringan dan degradasi lahan di banyak daerah (IPCC, 2019).
  4. Berita palsu dan era pasca kebenaran karena ketidakpercayaan yang lebih besar kepada pemerintah dan media resmi di era digital. Proliferasi berita palsu juga tumbuh dengan erosi kepercayaan publik terhadap sumber berita tradisional. Informasi yang salah yang dipublikasikan oleh situs konspirasi tentang masalah serius di banyak sektor memenuhi pasar/ruang opini public karena kegagalan untuk memenuhi permintaan masyarakat akan transparansi yang lebih besar. Informasi yang salah dan manajemen yang salah dari berita palsu memicu kegagalan dan makin tergerusnya kepercayaan pada jurnalis, politisi, dan pemerintah. (Forum Ekonomi Dunia, 2019).

Dalam rangka menjawab tantangan global dan tren terkini terkait kebijakan pembangunan, MONEV Studio berupaya mengambil peran melalui literasi. Mengapa? Kemampuan literasi yang baik merupakan prasyarat keberhasilan generasi abad ke-21. Literasi yang baik tidak hanya bicara tentang kemampuan dasar untuk membaca, memecahkan kode kata-kata atau membaca teks, namun lebih dari itu. Yakni kemampuan untuk menggunakan bacaan guna mendapatkan akses ke pengetahuan yang lebih relevan dan dibutuhkan, untuk mensintesis informasi dari berbagai sumber, untuk beragumen, mengkritisi, hingga mengevaluasi, menyandingkan dengan literature/sumber informasi lain, mendalami pengetahuan yang sama sekali baru, termasuk menelaah dan memilah informasi yang benar atau palsu.

Keterampilan membaca di tingkat yang lebih baik sangat penting bagi generasi muda di Indonesia dan juga di negara berkembang lainnya (Global South), generasi ini ingin menjelajahi bidang yang berbeda seperti sejarah, sains, dan matematika termasuk kejuruan atau akademik; guna mendapatkan kehidupan yang lebih baik di pasar tenaga kerja global berbasis pengetahuan; dan juga untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi yang sedang dalam situasi kompleks saat ini.

Kebutuhan universal untuk mempersiapkan generasi tersebut dalam menghadapi tuntutan abad ke-21 dengan literasi yang lebih baik menjadi penting. Lalu penting untuk memikirkan cara bagaimana mengurangi senjangnya akses literasi bagi kelompok terpinggir dan minoritas (Murnane, et.al, 2012).

Menurut sebuah studi tahun 2016 yang dilakukan oleh Central Connecticut State University di New Britain, AS, Indonesia adalah negara dengan tingkat melek huruf terendah kedua dari 61 negara di dunia. UNESCO (per 2016) menunjukkan bahwa anak muda Indonesia sebanyak 99,67% dan 95,22% orang dewasa yang melek huruf, nyatanya tidak mampu membaca surat dan kalimat secara memadai. Kebiasaan membaca tidak diinternalisasi dengan baik oleh masyarakat kita meskipun tingkat buta huruf rendah.

Salah satu penyebab adalah sistem pendidikan kita yang tidak sepenuhnya mendukung siswa untuk meningkatkan kemampuan literasinya dengan membaca, menggali kadar keingintahuannya, dan memperluas cakrawala pikirannya. Meskipun ada berbagai program yang dilakukan, seperti sesi membaca satu jam sebelum kelas dimulai di sekolah, namun hal tersebut tidak disadari oleh siswa sebagai hal yang penting, sehingga tidak dipahami tujuan kenapa harus banyak membaca, dll.

Melihat hal-hal di atas, World Most Literate Nations (WMLN) mendefinisikan kemampuan literasi masyarakat tidak hanya pada kemampuan membaca, tetapi juga — perilaku literasi masyarakat dan sumber daya pendukungnya. Peringkat WMLN didasarkan pada lima kategori yang terdiri dari indikator kesehatan literasi sebuah negara: keberadaan perpustakaan, surat kabar, input dan output pendidikan, dan ketersediaan komputer. Pendekatan multidimensi literasi ini juga mencakup kapasitas sosial, ekonomi, dan pemerintahan negara-negara di seluruh dunia.

Memprediksi dan mengeksplorasi beban dan tantangan literasi masyarakat dan bagaimana cara beralih dari kemampuan literasi rendah ke yang lebih baik menarik untuk dibongkar. Indonesia oleh banyak negara lain diakui sebagai salah satu negara terbesar di dunia, dan setelah era reformasi telah melakukan banyak reformasi positif, ujicoba, juga menghasilkan praktik terbaik untuk pembelajaran global.

Mengintervensi kemampuan literasi Indonesia adalah penting. MONEV Studio berusaha untuk bereksperimen dan membawa ide tersebut dalam ke konteks pembangunan dengan mengenalkan jargon pembangunan berkelanjutan dan mengenalkan bagaimana cara mengkritisi hingga mengevaluasinya bagi masyarakat di Indonesia secara massif. Selain Indonesia, MONEV Studio juga bertekad untuk membawa platform tersebut hingga ke jaringan Global South-nya di mana banyak negara menghadapi masalah serupa.

Dengan menggunakan lima indikator WMLN tentang kesehatan literasi yang dimodifikasi, MONEV Studio akan memulai kegiatan pendahuluan dengan meninjau secara singkat mengapa literasi pembangunan sangat penting di Indonesia saat ini dan mengapa konsep literasi perlu diperluas hingga mencakup pada aspek kompetensi mengenali isu-isu publik dan hak asasi manusia, konsepsi pembangunan utama, mengapa inklusi sosial penting, apa elemen penting dari manajemen kebijakan publik, cara kerjanya, dan bagaimana memantau kemajuan pembangunan, mengevaluasi dampaknya untuk kesejahteraan masyarakat, dan saluran apa yang bisa dipakai untuk menyuarakan aspirasi masyarakat, dll.

Kemudian sebagai kontribusi bagi upaya pembentukan masyarakat sipil yang kritis dan konstruktif, MONEV Studio juga akan mengenalkan secara massif dan menawarkan kepada publik perihal keterampilan berpikir kritis tentang kinerja pembangunan dan hasil-hasilnya.